Langsung ke konten utama

[CREATE IT] Bercakap dengan Mimpi

 
source from here


Aku terenyak. Malam itu kau melemparku ke titik sadar dengan kekuatan luar biasa. Memojokkanku dengan hentakan membabi buta. Tegun sesaat tetiba dipecah oleh inci demi inci ari yang menjeri, disusul bulir bening yang meruah tak terperi.


Aku mengisak tanpa nada. Kupijiti pelipis di setiap ruas peluh yang kian mendingin. Tentu saja dengan gerak perlahan tersebab aku sedang melobimu, Mimpi. Namun makin lama, ingatan ini malah kian menyeretku ke dalam cuplikan-cuplikan mengejutkan darimu.

Jantungku mencelus. Gundukan rasa di sudut hati ini limbung. Tersebab jika kau saja sudah tak bersedia dijadikan tumpuan, apa lagi yang bisa kujadikan perantara untuk mengepakkan sayap-sayap rasa ini?
Mimpi, tolong dengan sangat.

Aku belum punya cukup keberanian untuk meminta izin pada realita. Masih banyak serakan variabel, pun bentangan jurang yang menjaraki. Aku masih harus berjuang untuk menyeberang. Meski sedikit pun tak tahu, apakah ada upaya serupa yang pun tergerak di selubuk hati di sana, aku tetap di kepengkuhan yang sama. Bahkan kalaupun navigasi akhir takdir tak sesuara dengan rasa ini, tak apa. Siapa yang tahu takdir akan mengkonversi diri di tengah perjalanan, bukan?

Sekarang kamu sudah mengetahui keadaannya, kan, Mimpi?

Jadi tolong, sampai batas waktu, yang sayangnya masih belum bisa kuestimasi, bersedialah kujadikan tumpahan rasa.

Hai, Mimpi, aku banyak mendengar bahwa dirimu ternyata bisa mewujud menjadi nyata. Maukah kali ini kau bekerja sama dengan realita untuk melakukan hal tersebut perihalku?

Oh, tapi tidak dengan cuplik getir yang kamu kilatkan di tidurku saat itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[BOOK REVIEW] 101 Dosa Penulis Pemula - Isa Alamsyah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم Ada yang suka nulis? Iya dong, di sekolah tiap hari aku nulis. Itu sih udah pastiii -___- Bukan itu maksutnyah --“ Terus? Maksutnya nulis karya gitu. Karya fiksi kayak novel atau cerpen. Kalau nonfiksinya yaaa kayak esai atau artikel gituuu. Oooohh, iya aku suka-suka. Tapiiii .... Tapi apa? Tapi aku belum PD sama tulisanku Wah berarti kamu harus BANGET baca buku ini. Buku apaan? Buku 101 Dosa Penulis Pemula . Buku ini serius bagus untuk melatih kemampuan menulis. Bisa juga dijadikan bahan evaluasi untuk karya-karya kita yang sudah ditulis sebelumnya. Setelah membaca buku ini, aku sampai terkaget-kaget karena sadar ternyata banyak sekali dosa yang menjangkiti tulisan-tulisanku O.OV Yasudahlah, mending langsung aja ya ke posting annya. Posting an ini sebenarnya tugas resume buku dari mata kuliah Bahasa Indonesia, tapiii ya karena aku ingin berbagi pengetahuan sama kalian semua, terutama ...

[TASK] Solvabilitas sebagai Indikator Kesehatan Asuransi

source from here Asuransi syariah yang sangat menjunjung tinggi asas taawun bukan berarti menafikan adanya beragam risiko yang mungkin timbul. Terlebih dari segi pengelola asuransi, risiko menjadi bahasan penting yang tak boleh dialfakan. Urgensi pengelolaan risiko yang tepat, salah satunya dilakukan untuk menjaga tingkat kesehatan lembaga asuransi itu sendiri agar senantiasa berada pada tingkat stabil.

[CREATE IT] Behind the Scene of Our Destiny

Aku menekan nomor ekstensi fiksi. Begitu suara seorang perempuan terdengar di sana, aku membebaskan bibir bawah yang sedari tadi dibelam gigitan. Tentu saja untuk meredam degup jantung yang memburu. “Selamat pagi, Mbak. Saya Asti. Apa saya bisa tanya status naskah?” “Judul naskahnya apa, ya?” “Our Destiny.”           “Tunggu sebentar.” Aku mengangguk meski sadar tak mungkin dilihat si lawan bicara. Pelan, aku mengetuk-ngetuk gagang telepon yang menempel di telinga kanan. “Our Destiny, atas nama Asti Nurhayati?” “Iya benar, Mbak.” Aku meneguk ludah. Bersiap dengan kalimat yang akan kudengar detik selanjutnya. “Status naskah Our Destiny akan diterbitkan, dan surat pemberitahuan dari redaksi sudah dikirimkan.” Aku lantas terbelalak. Percampuran antara kaget dan bahagia. “Terbit, Mbak? Bener? Wah mungkin suratnya belum sampai ya. Lalu prosedur selanjutnya gimana, ya?” Nada bicaraku seketika berubah meriang. Bahkan tak sadar ...